Monthly Archives: Mei 2018

Keindahan Pantai Lawata

Keindahan Pantai Lawata Kota Bima

05Mei

Kalaki Beach Hotel – Pantai lawata merupakan pantai yang terletak dikelurahan sambinae dan 5 km dari kota Bima. Letaknya yang berada di pinggir jalan masuk kota Bima membuat Pantai Lawata mudah di temukan karena pada dinding batu ada tulisan Pantai Lawata, kondisi pantai lawata sendiri sangat indah dengan hamparan laut yang membentang di apit beberapa gunung dan menjorok ke dalam teluk Bima. Terlebih sekarang telah dibuat blok semen memanjang menuju teluk sepanjang 20 meter. Kondisi Pantai Lawata dulu dan sekarang sangat jauh berbeda jika sekarang sudah ada tempat duduk di pinggir pantai di sediakan deretan orang berjualan memudahkan pengunjung yang datang untuk tidak repot mencari jauh-jauh tempat untuk makan sedangkan dulu sangat gersang dan panas tidak ada fasilitas yang memadai seperti sekarang.

Fasilitas Pantai Lawata saat ini cukup lengkap seperti toilet, tempat parker dan gubuk-gubuk yang di buat disepanjang pantai. Gubuk (baruga) ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk bersantai bersama keluarga. Selain itu disekitar pantai juga terdapat caf, warung steak dan warung makan yang menjajakan aneka makanan.

Akses jalan menuju objek wisata ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti benhur (cidomo), motor, mobil. Hingga saat ini belum ada trasportasi umum yang khusus ke pantai Lawata sehingga warga yang tidak mempunyai kendaraan sulit untuk menikmati wisata dipantai ini. Akan tetapi kita bisa menggunakan bus umum lintas kabupaten dengan melewati Pantai Lawata ini.

Tiket masuk sekitar Rp 2000/orang. Sedangkan untuk biaya parker sekitar 2000/motor dan 5000/mobil. Jika menggunakan fasilitas seperti toilet akan dikenakan biaya tambahan

KOTA BIMA111

Kota Bima Nusatenggara barat

05Mei

Kalaki Beach Hotel – Bima adalah sebuah kota otonom yang terletak di Pulau Sumbawa bagian timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Geografi

Secara geografis Kota Bima terletak di bagian timur Pulau Sumbawa pada posisi 118°41’00”-118°48’00” Bujur Timur dan 8°20’00”-8°30’00” Lintang Selatan. Tingkat curah hujan rata-rata 132,58 mm dengan hari hujan: rata-rata 10.08 hari/bulan. Sementara matahari bersinar terik sepanjang musim dengan rata-rata intensitas penyinaran rata-rata 21 °C sampai 30,8 °C. suhu tertinggi terjadi pada Bulan Oktober dengan suhu berkisar 37.2 °C sampai 38 °C. hal ini menyebabkan Bima ditetapkan sebagai kota terpanas di Indonesia pada tahun 2014.

Kota Bima memiliki areal tanah berupa: persawahan seluas 1.923 hektare (94,90% merupakan sawah irigasi), hutan seluas 13.154 ha, tegalan dan kebun seluas 3.632 ha, ladang dan huma seluas 1.225 ha dan wilayah pesisir pantai sepanjang 26 km. Secara umum kondisi tanah di Kota Bima didominasi oleh gunung batu, hal ini menyebabkan rata-rata masyarakatnya bertani dengan menanam jagung dan tanaman keras lainnya.

Sejarah

Bima atau yang disebut juga dengan Dana Mbojo telah mengalami perjalanan panjang dan jauh mengakar ke dalam Sejarah. Menurut Legenda sebagaimana termaktub dalam Kitab BO (Naskah Kuno Kerajaan dan Kesultanan Bima), kedatangan salah seorang musafir dan bangsawan Jawa bergelar Sang Bima di Pulau Satonda merupakan cikal bakal keturunan Raja-Raja Bima dan menjadi permulaan masa pembabakan Zaman pra sejarah di tanah ini. Pada masa itu, wilayah Bima terbagi dalam kekuasaan pimpinan wilayah yang disebut Ncuhi. Nama para Ncuhi terilhami dari nama wilayah atau gugusan pegunungan yang dikuasainya.

Ada lima orang ncuhi yang tergabung dalam sebuah Federasi Ncuhi yaitu, Ncuhi Dara yang menguasai wilayah Bima bagian tengah atau di pusat Pemerintah. Ncuhi Parewa menguasai wilayah Bima bagian selatan, Ncuhi Padolo menguasai wilayah Bima bagian Barat, Ncuhi Banggapupa menguasai wilayah Bima bagian Timur, dan Ncuhi Dorowuni menguasai wilayah Utara. Federasi tersebut sepakat mengangkat Sang Bima sebagai pemimpin. Secara De Jure, Sang Bima menerima pengangkatan tersebut, tetapi secara de Facto ia menyerahkan kembali kekuasaannya kepada Ncuhi Dara untuk memerintah atas namanya.

Pada perkembangan selanjutnya, putera Sang Bima yang bernama Indra Zamrud dan Indra Komala datang ke tanah Bima. Indra Zamrut lah yang menjadi Raja Bima pertama. Sejak saat itu Bima memasuki Zaman kerajaan. Pada perkembangan selanjutnya menjadi sebuah kerajaan besar yang sangat berpengaruh dalam percaturan sejarah dan budaya Nusantara. Secara turun temurun memerintah sebanyak 16 orang raja hingga akhir abad 16.

Fajar islam bersinar terang di seluruh Persada Nusantara antara abad 16 hingga 17 Masehi. Pengaruhnya sagat luas hingga mencakar tanah Bima. Tanggal 5 Juli 1640 Masehi menjadi saksi dan tonggak sejarah peralihan sistem pemerintahan dari kerajaan kepada kesultanan. Ditandai dengan dinobatkannya Putera Mahkota La Ka’i yang bergelar Rumata Ma Bata Wadu menjadi Sultan Pertama dan berganti nama menjadi Sultan Abdul Kahir (kuburannya di bukit Dana Taraha sekarang). Sejak saat itu Bima memasuki peradaban kesultanan dan memerintah pula 15 orang sultan secara turun menurun hingga tahun 1951.

Masa kesultanan berlangsung lebih dari tiga abad lamanya. Sebagaimana ombak dilautan, kadang pasang dan kadang pula surut. Masa-masa kesultanan mengalami pasang dan surut disebabkan pengaruh imperialisme dan kolonialisme yang ada di Bumi Nusantara. Pada tahun 1951 tepat setelah wafatnya sultan ke-14 yaitu sultan Muhammad Salahudin, Bima memasuki Zaman kemerdekaan dan status Kesultanan Bima pun berganti dengan pembentukan Daerah Swapraja dan swatantra yang selanjutnya berubah menjadi daerah Kabupaten.

Pada tahun 2002 wajah Bima kembali di mekarkan sesuai amanat Undang-undang Nomor 13 tahun 2002 melaui pembentukan wilayah Kota Bima. Hingga sekarang daerah yang terhampar di ujung timur pulau sumbawa ini terbagi dalam dua wilayah administrasi dan politik yaitu Pemerintah kota Bima dan Kabupaten Bima. Kota Bima saat ini telah memliki 5 kecamatan dan 38 kelurahan dengan luas wilayah 437.465 Ha dan jumlah penduduk 419.302 jiwa dengan kepadatan rata-rata 96 jiwa/Km².

Sebagai sebuah daerah yang baru terbentuk, Kota Bima memiliki karakteristik perkembangan wilayah yaitu: pembangunan infrastruktur yang cepat, perkembangan sosial budaya yang dinamis, dan pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi.

Sudah 13 tahun ini Kota Bima dipimpin oleh seorang Wali kota dengan peradaban Budaya Dou Mbojo yang sudah mengakar sejak jaman kerajaan hingga sekarang masih dapat terlihat dalam kehidupan masyarakat Kota Bima dalam kesehariannya. Baik sosial, Budaya dan Seni tradisional yang melekat pada kegiatan Upacara Adat, Prosesi Pernikahan, Khataman Qur’an, Khitanan dan lain-lain serta bukti-bukti sejarah Kerajaan dan Kesultanan masih juga dapat dilihat sebagai Situs, Kepurbakalaan dan bahkan menjadi Objek Daya Tarik Wisata yang ada di Kota Bima dan menjadi objek kunjungan bagi wisatawan lokal, nusantara bahkan mancanegara.

Kependudukan

Suku asli masyarakat Kota Bima adalah suku Bima atau dikenal dalam bahasa lokal nya “Dou Mbojo”. Salah satu ke-unikan Kota Bima adalah sebagian dari masyarakat nya juga berasal dari berbagai suku dan etnik di indonesia seperti; Jawa, Sunda, Timor, Flores, Bugis, Bajo, Madura, Sasak (Lombok), Bali, Minang dan Batak sehingga memberi warna tersendiri di dalam keseharian mereka di Kota Bima (suku-suku ini selalu memeriahkan upacara dan pawai pada hari-hari besar di Kota Bima) dengan hidup berdampingan secara rukun dan damai serta suasana kondusif.

Jumlah penduduk
Kota Bima berdasarkan data tahun 2000 tercatat sebesar 116.295 jiwa yang terdiri dari 57.108 jiwa (49%) penduduk laki-laki dan 59.187 jiwa (51%) penduduk perempuan. Sebaran penduduk kurang merata, konsentrasi penduduk berada di pusat-pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan. Penduduk terbanyak berada di Kelurahan Paruga, yaitu berjumlah 12.275 jiwa (11%) dan paling sedikit di Desa Kendo yang berjumlah 1.130 jiwa (1%). Selanjutnya berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, penduduk Kota Bima berjumlah 142.443 jiwa yang terdiri dari 69.8411 jiwa laki-laki dan 72.602 jiwa perempuan.

sunset-di-pantai-kalaki

Sekilas Tentang Pantai Kalaki

05Mei

Kalaki Beach Hotel – Pantai Kalaki Bima merupakan pantai berpasir cokelat yang dasar lautnya sangat landai. Pantai ini secara administratif terletak di Desa Pantai, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Berada di ujung paling dalam Teluk Bima, pantai ini memiliki ombak yang sangat kecil sehingga banyak nelayan setempat yang menggunakan pantai ini untuk budidaya ikan di dalam keramba. Masyarakat setempat menyebut ikan yang dipelihara ini dengan sebutan “uta keramba” atau ikan keramba. Kita bisa melihat keramba ini dari bibir pantai yang juga tak jauh dari jalan utama lintas kabupaten.

Pemandangan di Pantai Kalaki ini sangat indah. Kita bisa melihat pegunungan yang berada di sisi selatan hingga sisi timur pantai atau pegunungan Donggo yang terlihat sangat tinggi menjulang ke atas bila kita mengarahkan pandangan ke sisi barat. Pegunungan-pegunungan ini banyak ditumbuhi rerumputan khas daerah sabana. Bila kita berkunjung pada musim penghujan, hamparan hijau akan bisa terlihat dengan jelas. Selain itu, kita juga bisa melihat pulau kambing yaitu pulau yang berada di tengah-tengah Teluk Bima.

Pantai Kalaki sudah mengalami pembangunan oleh pemerintah daerah. Pembagunan tersebut meliputi beberapa fasilitas umum seperti gubuk di pinggir pantai, toilet, ruko untuk penjaja makanan-minuman, musholla, taman kalaki yang terdapat beberapa contoh rumah adat serta kolam renang

Untuk menuju ke tempat ini alangkah baiknya menggunakan moda transportasi pribadi seperti motor atau mobil karena moda transportasi umum belum banyak. Jika tidak ada, Anda bisa menyewa tukang ojek atau menyewa mikrolet (bemo).

Waktu tempuh bila menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Bima sekitar 20 menit dengan kondisi jalanan yang sangat baik. Biaya masuknya gratis sedangkan biaya parkirnya berkisar Rp 2000/motor dan Rp 5000/mobil. Nah, bila Anda tertarik untuk berkunjung ke tempat ini, jangan lupa kunjungi pula Pantai Buntu dan Pantai So Ati.